Kamis, 23 Oktober 2014

Persembahan (OPI-TH)

0
Sejuta untaian kata saat harapan bertabur berjuta kenangan
Sejuta syukurpun kan terukir mesra
Dalam buaian indah yang tetap membiru dalam jiwa kami
Kau taburkan berjuta bintang
Yang selalu menaungi langkah kami
Terima kasih telah memberi warna emas pada dunia kami
Dalam rajutan, OPI-TH di hati
(Puisi persembahan untuk Bapak Itmam Rouyani sebagai pembina terbaik dalam OPI-TH Awards 1st)
Read More

Filsafat dari Ilmu (4)

0

Bagi para penuntut ilmu, hal mendasar yang patut untuk diuji adalah niatnya. Tanpa adanya niat yang benar, bagaikan makan-makanan lezat tak bernutrisi  dan masuk ke dalam tubuh untuk dicerna. Semakin mantap niat yang kita panjatkan, maka hasilnya pun tak akan menjadi setengah-setengah. Begitupula sebaliknya, apabila niat saja sudah tidak benar, misalkan mencari ilmu hanya untuk kebahagiaan dunia semata, bahkan hanya untuk mencari pundi-pundi rupiah, yakinlah, ilmu yang dicarinya itu akan terasa seperti gurun pasir. Luas ilmunya, namun gersang akan manfaat dan barokah. Begitulah gambaran masalah niat dalam mencari ilmu. Harus dan wajib memperbaiki niat dalam mencari ilmu dengan tujuan mencari ridho Allah. Sejatinya, hidup di dunia dan apapun yang dilakukan hanyalah untuk mencari ridho Allah.
Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh ke dalam hati mengenai pentingnya niat bagi pencari ilmu. Kisah ini datangnya dari al-alim al-allamah pendiri Ormas NU, yaitu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Dimulainya sebuah kisah sesaat beliau menuntut ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, sang maha gurunya para kiai yang ada di tanah Madura dan Jawa.
Pada suatu saat, Syaikh Kholil sedang bingung memikirkan sesuatu. Keadaan seperti ini membuat Syaikh Kholil tidak semangat dalam mengajar para santrinya. Kyai Hasyim pun yang sangat peka terhadap suatu keadaan, tahu dan faham apa yang diinginkan gurunya tersebut. Tak banyak fikir panjang, beliau langsung mencari jawaban masalah tersebut. Setelah dicarinya, ternyata masalah tersebut disebabkan cincin Bu Nyai hilang di dalam jumbleng (tempat pembuangan kotoran/ WC). Kejadian pada waktu itu yang sangat menggetarkan jiwa yaitu saat Kyai Hasyim masuk ke dalam jumbleng demi mendapatkan sebuah cincin.
Begitu takdhimnya Kyai Hasyim terhadap gurunya, sehingga beliau rela melakukan tindakan itu. Tanpa adanya niat yang mendalam dari pencari ilmu, rasa takdhim, kepedulian terhadap ilmu dan keseriusan dalam belajar tidak dapat berhasil secara maksimal. Ketika niat ditempatkan pada prioritas utama, kendala apapun yang dapat menghalangi bagi pencari ilmu tidak akan terasa. Berdasarkan cerita di atas, begitu kuatnya niat Kyai Hasyim untuk mencari ilmu dari Syaikh Kholil. Buah dari adanya perjuangan mencari ilmu itu yang menjadikan Kyai Hasyim sebagai kyai yang sangat disegani karena ilmu dan ketakdhimannya hingga saat ini.
Tebuireng, 13 Desember 2013
Read More

The Spirit of Strugle

0

Selamanya, pengorbanan bernilai positif tidak akan berlalu begitu saja
Tidak ada suatu pengorbanan di dunia ini yang musnah maupun hilang sia-sia. Segalanya pasti akan ada balasannya, meski perbuatan itu baik atau buruk. Sifat asli manusia yang selalu memiliki keinginan dan impian haruslah diikuti usaha, meski usaha yang dijalani dan rintangan yang ada begitu berat. Semakin besar suatu impian,  semakin besar pula usaha yang perlu dihadapi. Dan jangan lupa juga disetiap usaha pasti ada rintangan. Banyak orang terlena akan semua itu, bahwa rintangan itu pasti ada. Menurut saya, kesuksesan itu kurang sempurna tanpa adanya rintangan. Melalui rintangan, secara tidak sadar kita akan dituntun menjadi manusia yang kuat dan unggul terhadap prestasi kedepannya nanti. Maksudnya begini, meski prestasi itu akan meningkat dan mencapai pada puncak kejayaan, orang itu tidak akan tinggi hati terhadap prestasi yang dicapainya. Semakin banyak rintangan dan orang itu menjalaninya dengan sabar, itu dapat menunjukkan proses menuju kuatnya kualitas hidup orang tersebut. Jadi manfaat rintangan itu seperti vitamin penjaga bagi  berbagai kemungkinan keadaan.
Tinggi hati atau sombong merupakan penyakit bagi orang-orang sukses. Karenanya, kadang orang tidak sadar bahwa kesombongan itu titik awal bagi rusak dan ambruknya kesuksesan. Keterlenaan atas semua itu haruslah di waspadai bagi peminat kesuksesan. Biasanya, orang yang membangun kesuksesan mulai dari nol itu jauh memiliki kualitas hidup yang baik. Karena dia pernah merasakan susahnya hidup menjadi orang susah. Tetapi bagi yang tidak memulai dari nol, hanya bisa merasakan kesuksesan dari atas dan tidak pernah merasakan sulitnya merangkak dari bawah.
Selamanya, pengorbanan bernilai positif tidak akan berlalu begitu saja. Seperti halnya pengorbanan sebuah cinta kasih. Meskipun cinta itu tidak mengenai sasaran atau tidak tercapai, pengorbanan akan di alihkan pada bentuk kasih lain yang kita tidak menyadarinya. Allah SWT. tidak akan pernah membuang sia-sia usaha seorang hambanya begitu saja. Yang perlu anda ketahui, impian itu pasti terwujud tetapi jalan untuk mencapai impian itu yang kita tidak mengetahuinya. Berasal dari ketidaktahuan, kita hanya bisa berusaha. Bagaimanapun hasilnya itu adalah keputusan Allah SWT. yang Maha Mengetahui. Jangan pernah kita mengeluh akan keputusan dari-Nya yang tidak sesuai dengan harapan kita. Pasti Dia memiliki rencana tersendiri yang tidak pernah kita fikirkan sebelumnya. Wajib kita lakukan adalah bersabar atas keputun-Nya.
”Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” begitulah janji-Nya yang tidak pernah diingkari. Banyak sekali orang berjuang mati-matian namun juga tak kunjung terwujud impiannya. Mereka juga tak putus asa, namun pada akhirnya mendapatkan juga apa yang dia inginkan malah melebihi apa yang mereka harapkan. Sebab bersabar itulah yang menyebabkan memiliki derajat tinggi di sisi Allah dan Dia tidak segan-segan memberi lebih apa yang mereka inginkan. Semoga bagi orang-orang pejuang tanpa kenal lelah itulah yang akan digolongkan sebagai golongan orang sabar. Wallahu a’lam.
Madiun, 21 Agustus 2014
Read More

Kerinduan

0

Kau datang menghampiriku...
Disaat ku berlumur kegelapan
Sinaran ilahi merajut dalam jiwaku
Bagai sambaran kilat tak berjeda
Butir-butir kerinduanpun melekat sempurna
Membisik dalam relung jiwa
Saatku merasa...
Bidadari nirwana membawa berjuta harapan
Oh Tebuireng...
Berjuta kenangan kami ukir pada lekukan jiwamu
Bersatu padu mengukuhkan segala harapan
Tersimpan rapi pada niatan suci
Hanya pasrah yang dapat kami lontarkan
Dalam hening terselip doa
Keberkahan selalu menaungi kami

Ku persembahkan pada Alumni Tebuireng lulusan 2014
Read More

Bermimpilah... Capailah angan!

0

Hanya kita sebagai pelaku utama yang selalu berjuang dan berusaha agar mampu melukiskan dan mengisi lekuk-lekuk kehidupan menjadi bermakna.
Memang, bermimpi untuk mencapai impian itu sangatlah mudah. Namun tidak semua orang tahu akan kemana jalan menuju impian itu harus ditempuh. Maka janganlah heran apabila kita memiliki keinginan namun tak kunjung terwujud. Semua itu tak lain disebabkan karena kita hanya manusia biasa yang diberi kemampuan untuk berusaha. Ya, kita hanya diberi kemampuan untuk berusaha. Semua makhluk Allah SWT. diberi kemampuan sama, yaitu sama-sama berusaha tanpa terkecuali.
Antara usaha dan impian terdapat sesuatu yang mampu menghubungkan keduanya, yaitu doa. Saya yakin, semua doa tidak ada yang tidak terkabul atau terwujud. Semua doa pasti terkabu dan tidak ada yang tertolak. Hanya saja, kapankah doa itu akan terkabul, kita tidak dapat mengetahui tentang ini. Entah dalam waktu dekat, lama, bahkan belum tentu doa itu terkabul pada diri kita. Bisa jadi doa itu terkabul untuk saudara atau anak keturunan kita. Sejatinya, hal yang perlu dipahami adalah selamanya doa tidak ada yang tertolak. Asalkan seluruh tata cara doa agar terkabul sudah terpenuhi, doa tidak akan tertolak.
Sungguh, skenario Allah SWT. sangatlah indah. Yakinlah, hanya Dia yang mencintai seorang hamba lemah seperti kita ini. Utarakan segala permasalahan yang kita hadapi kepada Dia. Ketika kita tidak memiliki apa-apa, hanya Allah SWT. yang selalu peduli akan keadaan kita. Menurut KH. Musta’in Syafi’i dari Tebuireng Jombang, “Libatkanlah Allah dalam segala permasalahan kita.” Maksud dari kata-kata itu adalah berdoalah untuk segala urusan baik bersifat dunia dan akhirat. Hanya doa yang dapat menghantarkan mimpi kita menuju impian nyata dan tidak hanya khayalan belaka.
Lekuk-lekuk kehidupan terukir indah dalam realita kehidupan. Hanya kita sebagai pelaku utama yang selalu berjuang dan berusaha agar mampu melukiskan dan mengisi lekuk-lekuk kehidupan menjadi bermakna. Diri kita sendirilah yang mampu memunculkan semangat berusaha dan mencapai impian.
Surabaya, 13 September 2014
Read More

Sabtu, 04 Oktober 2014

KH.AHMAD DAHLAN: Menelusuri Akidah Sang Pencerah

0


KH Ahmad Dahlan sebagai ulama, intelektual yang memiliki wawasan kebangsaan yang luar di anggab sebagai sang Mujaddid (pembaharu). Gagasan-gagasan KH Ahmad Dahlan di anggab oleh sebagian orang-orang Muhammadiyah sebagai sesuatu yang memberikan pencerahan, yaitu usaha kembali memurnikan ajaran islam. Sebab, akidah umat islam nusantara, khususnya tanah Jawa tidak sesuai dengan akidah, terkontaminasi dengan TBC (Tahayyul, Bidah, dan Khurafat). Inilah yang menjadi alasan kalangan pengikut Muhammadiyah, sehingga umat Islam nusantara perlu diluruskan.


Jika dikaji dan ditelurusi lebih dalam, ternyata akidah KH Ahmad Dahlan itu sama dengan keyakinan guru-gurunya, seperti Syekh Sholih Darat, Sayyed Abu Bakar Shata, Syekh Ahmad Khotib Minangkabawi. Apalagi, buku tulisan tangan Arab Pego KH Ahmad Dahlan juga mengisaratkan kalau beliau ber-akidah Al-Syairoh dan Maturidiyah. Begitu juga dengan karya-karya ulama klasik, seperti Syekh Sirajudin Abbas, juga juga mengisaratkan bahwa akidah dan madhab KH Ahmad Dahlan itu sama dengan guru-gurunya. Bahkan, madzhab fikih beliau juga jelas mengikuti Imam Syafii.


Apalagi kitab-kitab manuskprip (tulisan tangan KH Ahmad Dahlan) masih ada, dan bisa di baca hingga saat ini. Itu bisa menjadi bukti otentik, bahwa KH Ahmad Dahlan itu akidahnya Al-Syairoh dan Maturidiyah, sedangkan Madzhabnya mengikuti Imam Al-Syafii. Dengan begitu, anggapan bahwa akidahnya KH Ahmad Dahlan itu selaras dengan Syekh Abduh, Syekh Abdul Wahhab, Ibn Taimiyah, dan Ibn Qoyyim Al-Jaziyah bisa dipatahkan. semua itu terkesan di paksakan, agar supaya tersa berbeda dengan gerakan Nahdiyah (NU).

Jika KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) di anggap mengikuti pemikiran Abduh, yang menurut kajian Harun Nasution adalah ‘’neo-Mu’tazilah’’.[1] Anggapan ini salah kaprah, bahkan terkesan mengada-ngada, dalam istilah bahasa Arab disebut dengan Bidah Pemikiran Muhammadiyah. Arbiyah Lubis dalam disertasinya membuktikan, bahwa sepanjang persoalan teologi (akidah), Muhammadiyah tidaklah mengikuti Abduh sama sekali (Syafii Maarif:13). Lubis berkesimpulan bahwa tidak ada kesamaan di antara keduanya.


Muhammad Abduh bersifat rasional yang lebih dekat dengan Mu’tazilah, sedangkan teologi KH Ahmad Dahlan (Muhammadiyah) bersifat tradisonal, lebih dekat dengan teologiAsy’ariyah.[2] Dengan demikian, antara Muhammadiyah dan Nahdhotul Ulama’ itu memiliki kesamaan di dalam masalah akidah (teologi).


Apalagi jika melihat beberapa kitab Himpunan Putusan Madjlis Tardjih Muhammadiyah, thn, 1968-1969. Dalam kitab tersebut, Madjlis Tardjih Muhammadiyah mengambil dan menukil salah nama ulama besar yang ber-teologi Asya’riyah, yaitu Syekh Abu Mansur Al-Bagdadi.[3] Dalam catatan Putusan Dewan Tardjih Muhammadiya di tulis:’’Berkata Abu Mansur Bagdadi di dalam kitab Al-Farqu baina Al-Firoq, muka (6).[4] Lebih lanjut lagi dijelaskan bahwa Nabi SAW mengatakan:’’sesungguhnya orang-orang Bani Israil itu telah telah berpecah belah menjadi 71 golongan, dan umatku nanti akan berpecah belah menjadi 72 golongan, kesemuanya itu dalam Neraka, kecuali satu golongan’’.[5]


Antara informasi yang berkembang dan realitas dalam tulisan KH Ahmad Dahlan tidak sesuai. Dengan demikian, ada orang-orang terntentu atau usaha secara tersembunyi yang di lakukan secara sengaja merubah ajaran KH Ahmad Dahlan serta tata cara ibadahnya (Madzhab). Tujuan utamanya ialah karena ada unsur politik, artinya jangan sampai antara KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asaary bersatu. Sebab, persatuan antara dua kekuatan islam yang besar itu bisa menjadikan Indonesia menggunakan syariat islam.


Dengan begitu, bagaimana supaya dua kekuatan Nahdhatul Ulama dan Muhammadiyah tetap terkesan berbeda dan bersembarangan akidah dan tata cara ibadahnya. Khususnya masalah amaliyah ubudiyah sehari-hari. Qunut, Dua Adzan Jumat, bacaan basamlah dalam surat Al-Fatihah, sholat Tarawih 20 rakaat, ziarah kubur, tahlilan, dan istighosahan. Padahal, KH Ahmad Dahlan melakukanya, sementara para pengikutnya justru menganggab itu semua bidah (mengada-ngada) alias tersesat.


Rupanya, golongan tertentu itu sengaja melesrtarikan peberbedaan itu, dengan tujuan agar supaya kedua kelompok it terus bertengkar dan selamanya bersebarangan. Sebab, jika kedua kelompok, antara Muhammadiyah (KH Ahmad Dahlan) dan KH Hasyim Asaary (Nahdhatul Ulama’) itu bersatu, maka kekuatan islam di negeri ini akan kuat dan tidak mungkin dikalahkan oleh kekuatan politik mana-pun. Sebisanya mungkin, antara gagasan KH Ahmad Dahlan dan Gagasan KH Hasyim Asaary terus menerus diangkat agar para pengikutnya semakin panas, kemudian saling bertikai (www.wisatahaji.com). Ringkasan dari naskah Membumikan Gagasan KH Ahmad Dahlan yang di Tulis oleh Abdul Adzim Irsad


[1] . Syafii Maarif. Dr. 2000. Hubungan Muhammadiyah dan Negara: Tinjauan Telogis. Yang di tulis dalam buku Rekontruksi Gerakan Muhammadiyah pada Era Multiperadaban (UII Press-Jokjakarta) hlm 13


[2] . Syafii Maarif. Dr. 2000. Hubungan Muhammadiyah dan Negara: Tinjauan Telogis. Yang di tulis dalam buku Rekontruksi Gerakan Muhammadiyah pada Era Multiperadaban (UII Press-Jokjakarta) hlm 13


[3] . Abu Mansur Abd Qahir bin Tahir Al-Baghdadi (m.429/1037). Beliau salah satu dari sekian ulama yang ber-teologi Al-Asyairah yang membela sunnah Rosulullah SAW atas serangan-serangan Mu’tazilah dan Syiah.


[4] . Himpunan Putusan Madjils Tardjih Muhammadiyah.1969. Ditanfidzkan dan diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muahammadiyah) hlm 21


[5] (HR Tirmidzi).

sumber : https://www.facebook.com/notes/ahmed-azzimi/khahmad-dahlan-menelusuri-akidah-sang-pencerah/10152020674967543
Read More