Jumat, 31 Oktober 2014

Nuruddin Mahmud Zanki: Penggelora Jihad Melawan Pasukan Salib

0
Dalam sejarah Perang Salib, kaum Muslimin sangat mengenal sosok pejuang Salahuddin al-Ayubi dibanding Nuruddin Mahmud Zanki. Namanya tak setenar Salahuddin, sang pembebas kota Yerussalem dari kekuasan pasukan Salib (selanjutnya dibaca salib). Meski demikian, Nuruddin-lah yang pertama kali menggelorakan semangat perjuangan itu.

Ia lahir hari Ahad 17 Syawal 511 H (Februari 1118 M), 20 tahun pasca jatuhnya al-Quds ke tangan pasukan Salib. Perawakannya tinggi, tampan dengan kulit agak kehitaman dan sedikit berjenggot. Ayahnya, Imanuddin Zanki, adalah penguasa Mosul dan Irak, sekaligus mujahid yang tangguh.

Nuruddin mewarisi tampuk kepemimpinan ayahnya yang syahid di medan jihad pada 5 Rabiul Awal 541 H. Dua misi besar yang diperjuangkan Nuruddin yakni menyatukan umat Islam dan membebaskan negeri-negeri Islam dari jajahan pasukan Salib. Ia memimpin perang dengan keberanian dan tawakal yang tinggi kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT).

Seorang ulama Qutbuddin Annisaburi begitu khawatir akan keberanian Nuruddin. “Demi Allah, jangan gadaikan nyawamu dan Islam. Jika Anda gugur dalam peperangan, maka tidak seorang pun kaum Muslimin yang tersisa pasti akan terpenggal oleh pedang,” ujar Qutbuddin.

Maka ia pun menjawab, “Siapa Nuruddin itu, sehingga ia dikatakan demikian? Mudah-mudahan karena (kematian) ku, Allah memelihara negeri ini dan Islam. Itulah Allah yang tiada Tuhan yang berhak disembah dengan hak melainkan Dia.”

Nuruddin adalah pemimpin yang selalu optimis. Pembebasan Baitul Maqdis di Yerusalem dari genggaman pasukan Salib adalah hal yang paling didambakannya.

Hingga tahun 569 H/1173 M, kerja keras Nuruddin untuk menyatukan kekuatan umat Islam yang terkotak-kotak dalam kerajaan-kerajaan kecil mencapai puncaknya. Berbagai pertempuran dahsyat antara umat Islam yang dipimpinnya dengan pasukan Salib kerap terjadi. Berbagai serangan yang dilakukannya berhasil melemahkan pasukan Salib hingga terpecah belah. Walhasil, sekitar 50 kota dan benteng yang sebelumnya dikuasai pasukan Salib berhasil direbut.

Pada 570 H/1174 M, kekuatan Islam telah terbentang dari Iraq ke Syria, Mesir, hingga Yaman. Saat yang dinanti-nanti untuk merebut Baitul Maqdis pun kian dekat. Namun takdir Allah SWT berkata lain. Nuruddin meniggal akibat penyakit penyempitan tenggorakan. Kepemimpinan kemudian dipikul muridnya, Shalahuddin al-Ayyubi.



Pemimpin yang Adil

“Sungguh ia telah menutupi bumi dengan biografinya yang indah dan keadilannya. Aku telah membaca biografi para raja, namun aku tidak melihat, sesudah Khulafa'ur Rasyidin dan Umar bin Abdul Aziz, yang lebih baik daripada biografinya dan tidak ada yang lebih memperhatikan keadilan daripadanya,” demikian komentar Ibnu Katsir terhadap Nuruddin Mahmud Zanki.

Ibnu Katsir melanjutkan, ia tidak pernah membiarkan pungutan (pajak) dan membebaskan kesulitan dalam negerinya sekuat tenaga. “Ia juga sangat mengagungkan syariat dan memperhatikan hukum-hukum syariat tersebut,” tandas Ibnu Katsir.

Ia juga membangun forum keadilan (Dar Al-'Adl) di negerinya. Ia duduk bersama hakim di sana untuk melayani orang yang dizhalimi, sekalipun ia seorang Yahudi, dari orang yang berbuat zhalim, sekalipun ia putranya atau menterinya yang paling berpengaruh.

Pakar sejarah, Imam Adz-Dzahabi berkata, “Penguasa Syam, seorang raja yang adil, dialah Nuruddin.” Ia juga berkata, "Adalah Nuruddin pembawa dua panji: keadilan dan jihad. Jarang sekali mata melihat orang sepertinya.”



Shalih dan Takwa

Nuruddin Mahmud Zanki dan istrinya, Ashamat ad-Din Khatun binti al-Atabik, adalah pasangan yang gemar shalat malam. Ia juga senantiasa menjaga shalat berjamaah. Ibnu Katsir mengakuinya, “Nuruddin itu kecanduan shalat malam, banyak berpuasa dan berjihad dengan akidah yang benar.”

Selain itu Nuruddin juga dikenal sebagai pribadi yang zuhud terhadap dunia. Begitu zuhudnya, hingga konsumsi orang paling miskin pada zaman itu masih lebih tinggi dari konsumsi yang ia makan setiap hari. Tanpa simpanan dan tidak pula menentukan dunia untuk dirinya sendiri.

Ketika isterinya mengeluhkan beratnya penderitaan dan kesusahan hidup, Nuruddin memberinya tiga toko pribadi di kota Homs. Lalu dia berkata, “Itu semua yang aku miliki. Dan jangan berharap kepadaku untuk meletakkan jariku pada uang umat yang diamanatkan kepadaku. Aku tidak akan mengkhianatinya. Dan, aku tidak mau menceburkan diri dalam siksa Allah hanya karenamu.”

Sabth bin al-Jauzi berkata, “Ia memiliki beberapa pohon kurma. Ia memintal benang dan membuat manisan, lalu menjualnya secara sembunyi-sembunyi dan memakan dari hasil penjualannya."



Cerdas dan Berwawasan

Ibnu Katsir berkata, “Nuruddin sosok yang pintar, cerdas dan sangat melek akan situasi kontemporer”. Imam adz-Dzahabi juga berkata, “Nuruddin baik tulisannya, banyak membaca, shalat berjamaah, berpuasa, membaca al-Qur’an, bertasbih, hati-hati dalam makanan, menjauhi dosa-dosa besar, meniru-niru para ulama dan orang-orang pilihan.”

Ia mengarang buku tentang konsep jihad. Ia adalah pengikut mazhab Hanafi yang menadapat izin untuk meriwayatkan Hadits-Hadits. Di dalam majelisnya tidak dibicarakan hal-hal kecuali ilmu, agama, dan berkonsultasi tentang jihad. Belum pernah didengar darinya kalimat keji, dalam kondisi marah atau ceria. Ia benar-benar seorang pendiam.

Dialah mujahid yang paling ditakuti, tapi lembut dan penyayang. (dikutib dari majalah Hidayatullah/surya Fahrizal)
Read More

Kamis, 23 Oktober 2014

Persembahan (OPI-TH)

0
Sejuta untaian kata saat harapan bertabur berjuta kenangan
Sejuta syukurpun kan terukir mesra
Dalam buaian indah yang tetap membiru dalam jiwa kami
Kau taburkan berjuta bintang
Yang selalu menaungi langkah kami
Terima kasih telah memberi warna emas pada dunia kami
Dalam rajutan, OPI-TH di hati
(Puisi persembahan untuk Bapak Itmam Rouyani sebagai pembina terbaik dalam OPI-TH Awards 1st)
Read More

Filsafat dari Ilmu (4)

0

Bagi para penuntut ilmu, hal mendasar yang patut untuk diuji adalah niatnya. Tanpa adanya niat yang benar, bagaikan makan-makanan lezat tak bernutrisi  dan masuk ke dalam tubuh untuk dicerna. Semakin mantap niat yang kita panjatkan, maka hasilnya pun tak akan menjadi setengah-setengah. Begitupula sebaliknya, apabila niat saja sudah tidak benar, misalkan mencari ilmu hanya untuk kebahagiaan dunia semata, bahkan hanya untuk mencari pundi-pundi rupiah, yakinlah, ilmu yang dicarinya itu akan terasa seperti gurun pasir. Luas ilmunya, namun gersang akan manfaat dan barokah. Begitulah gambaran masalah niat dalam mencari ilmu. Harus dan wajib memperbaiki niat dalam mencari ilmu dengan tujuan mencari ridho Allah. Sejatinya, hidup di dunia dan apapun yang dilakukan hanyalah untuk mencari ridho Allah.
Ada sebuah kisah yang sangat menyentuh ke dalam hati mengenai pentingnya niat bagi pencari ilmu. Kisah ini datangnya dari al-alim al-allamah pendiri Ormas NU, yaitu Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Dimulainya sebuah kisah sesaat beliau menuntut ilmu kepada Syaikhona Kholil Bangkalan, sang maha gurunya para kiai yang ada di tanah Madura dan Jawa.
Pada suatu saat, Syaikh Kholil sedang bingung memikirkan sesuatu. Keadaan seperti ini membuat Syaikh Kholil tidak semangat dalam mengajar para santrinya. Kyai Hasyim pun yang sangat peka terhadap suatu keadaan, tahu dan faham apa yang diinginkan gurunya tersebut. Tak banyak fikir panjang, beliau langsung mencari jawaban masalah tersebut. Setelah dicarinya, ternyata masalah tersebut disebabkan cincin Bu Nyai hilang di dalam jumbleng (tempat pembuangan kotoran/ WC). Kejadian pada waktu itu yang sangat menggetarkan jiwa yaitu saat Kyai Hasyim masuk ke dalam jumbleng demi mendapatkan sebuah cincin.
Begitu takdhimnya Kyai Hasyim terhadap gurunya, sehingga beliau rela melakukan tindakan itu. Tanpa adanya niat yang mendalam dari pencari ilmu, rasa takdhim, kepedulian terhadap ilmu dan keseriusan dalam belajar tidak dapat berhasil secara maksimal. Ketika niat ditempatkan pada prioritas utama, kendala apapun yang dapat menghalangi bagi pencari ilmu tidak akan terasa. Berdasarkan cerita di atas, begitu kuatnya niat Kyai Hasyim untuk mencari ilmu dari Syaikh Kholil. Buah dari adanya perjuangan mencari ilmu itu yang menjadikan Kyai Hasyim sebagai kyai yang sangat disegani karena ilmu dan ketakdhimannya hingga saat ini.
Tebuireng, 13 Desember 2013
Read More

The Spirit of Strugle

0

Selamanya, pengorbanan bernilai positif tidak akan berlalu begitu saja
Tidak ada suatu pengorbanan di dunia ini yang musnah maupun hilang sia-sia. Segalanya pasti akan ada balasannya, meski perbuatan itu baik atau buruk. Sifat asli manusia yang selalu memiliki keinginan dan impian haruslah diikuti usaha, meski usaha yang dijalani dan rintangan yang ada begitu berat. Semakin besar suatu impian,  semakin besar pula usaha yang perlu dihadapi. Dan jangan lupa juga disetiap usaha pasti ada rintangan. Banyak orang terlena akan semua itu, bahwa rintangan itu pasti ada. Menurut saya, kesuksesan itu kurang sempurna tanpa adanya rintangan. Melalui rintangan, secara tidak sadar kita akan dituntun menjadi manusia yang kuat dan unggul terhadap prestasi kedepannya nanti. Maksudnya begini, meski prestasi itu akan meningkat dan mencapai pada puncak kejayaan, orang itu tidak akan tinggi hati terhadap prestasi yang dicapainya. Semakin banyak rintangan dan orang itu menjalaninya dengan sabar, itu dapat menunjukkan proses menuju kuatnya kualitas hidup orang tersebut. Jadi manfaat rintangan itu seperti vitamin penjaga bagi  berbagai kemungkinan keadaan.
Tinggi hati atau sombong merupakan penyakit bagi orang-orang sukses. Karenanya, kadang orang tidak sadar bahwa kesombongan itu titik awal bagi rusak dan ambruknya kesuksesan. Keterlenaan atas semua itu haruslah di waspadai bagi peminat kesuksesan. Biasanya, orang yang membangun kesuksesan mulai dari nol itu jauh memiliki kualitas hidup yang baik. Karena dia pernah merasakan susahnya hidup menjadi orang susah. Tetapi bagi yang tidak memulai dari nol, hanya bisa merasakan kesuksesan dari atas dan tidak pernah merasakan sulitnya merangkak dari bawah.
Selamanya, pengorbanan bernilai positif tidak akan berlalu begitu saja. Seperti halnya pengorbanan sebuah cinta kasih. Meskipun cinta itu tidak mengenai sasaran atau tidak tercapai, pengorbanan akan di alihkan pada bentuk kasih lain yang kita tidak menyadarinya. Allah SWT. tidak akan pernah membuang sia-sia usaha seorang hambanya begitu saja. Yang perlu anda ketahui, impian itu pasti terwujud tetapi jalan untuk mencapai impian itu yang kita tidak mengetahuinya. Berasal dari ketidaktahuan, kita hanya bisa berusaha. Bagaimanapun hasilnya itu adalah keputusan Allah SWT. yang Maha Mengetahui. Jangan pernah kita mengeluh akan keputusan dari-Nya yang tidak sesuai dengan harapan kita. Pasti Dia memiliki rencana tersendiri yang tidak pernah kita fikirkan sebelumnya. Wajib kita lakukan adalah bersabar atas keputun-Nya.
”Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita” begitulah janji-Nya yang tidak pernah diingkari. Banyak sekali orang berjuang mati-matian namun juga tak kunjung terwujud impiannya. Mereka juga tak putus asa, namun pada akhirnya mendapatkan juga apa yang dia inginkan malah melebihi apa yang mereka harapkan. Sebab bersabar itulah yang menyebabkan memiliki derajat tinggi di sisi Allah dan Dia tidak segan-segan memberi lebih apa yang mereka inginkan. Semoga bagi orang-orang pejuang tanpa kenal lelah itulah yang akan digolongkan sebagai golongan orang sabar. Wallahu a’lam.
Madiun, 21 Agustus 2014
Read More

Kerinduan

0

Kau datang menghampiriku...
Disaat ku berlumur kegelapan
Sinaran ilahi merajut dalam jiwaku
Bagai sambaran kilat tak berjeda
Butir-butir kerinduanpun melekat sempurna
Membisik dalam relung jiwa
Saatku merasa...
Bidadari nirwana membawa berjuta harapan
Oh Tebuireng...
Berjuta kenangan kami ukir pada lekukan jiwamu
Bersatu padu mengukuhkan segala harapan
Tersimpan rapi pada niatan suci
Hanya pasrah yang dapat kami lontarkan
Dalam hening terselip doa
Keberkahan selalu menaungi kami

Ku persembahkan pada Alumni Tebuireng lulusan 2014
Read More

Bermimpilah... Capailah angan!

0

Hanya kita sebagai pelaku utama yang selalu berjuang dan berusaha agar mampu melukiskan dan mengisi lekuk-lekuk kehidupan menjadi bermakna.
Memang, bermimpi untuk mencapai impian itu sangatlah mudah. Namun tidak semua orang tahu akan kemana jalan menuju impian itu harus ditempuh. Maka janganlah heran apabila kita memiliki keinginan namun tak kunjung terwujud. Semua itu tak lain disebabkan karena kita hanya manusia biasa yang diberi kemampuan untuk berusaha. Ya, kita hanya diberi kemampuan untuk berusaha. Semua makhluk Allah SWT. diberi kemampuan sama, yaitu sama-sama berusaha tanpa terkecuali.
Antara usaha dan impian terdapat sesuatu yang mampu menghubungkan keduanya, yaitu doa. Saya yakin, semua doa tidak ada yang tidak terkabul atau terwujud. Semua doa pasti terkabu dan tidak ada yang tertolak. Hanya saja, kapankah doa itu akan terkabul, kita tidak dapat mengetahui tentang ini. Entah dalam waktu dekat, lama, bahkan belum tentu doa itu terkabul pada diri kita. Bisa jadi doa itu terkabul untuk saudara atau anak keturunan kita. Sejatinya, hal yang perlu dipahami adalah selamanya doa tidak ada yang tertolak. Asalkan seluruh tata cara doa agar terkabul sudah terpenuhi, doa tidak akan tertolak.
Sungguh, skenario Allah SWT. sangatlah indah. Yakinlah, hanya Dia yang mencintai seorang hamba lemah seperti kita ini. Utarakan segala permasalahan yang kita hadapi kepada Dia. Ketika kita tidak memiliki apa-apa, hanya Allah SWT. yang selalu peduli akan keadaan kita. Menurut KH. Musta’in Syafi’i dari Tebuireng Jombang, “Libatkanlah Allah dalam segala permasalahan kita.” Maksud dari kata-kata itu adalah berdoalah untuk segala urusan baik bersifat dunia dan akhirat. Hanya doa yang dapat menghantarkan mimpi kita menuju impian nyata dan tidak hanya khayalan belaka.
Lekuk-lekuk kehidupan terukir indah dalam realita kehidupan. Hanya kita sebagai pelaku utama yang selalu berjuang dan berusaha agar mampu melukiskan dan mengisi lekuk-lekuk kehidupan menjadi bermakna. Diri kita sendirilah yang mampu memunculkan semangat berusaha dan mencapai impian.
Surabaya, 13 September 2014
Read More